Menjemput Keberkahan Sayyidul Ayyam: Tradisi Religi Santri Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung sebagai Pilar Pembentukan Karakter
SIJUNJUNG, Mentari pagi di ufuk timur Kabupaten Sijunjung pada Jumat (10/4/2026) menyapa dengan ketenangan yang berbeda. Bagi keluarga besar Sekolah Akhlak Cendekia Muslim, hari Jumat bukan sekadar penutup hari kerja dalam sepekan, melainkan sebuah oase spiritual yang sangat dinanti. Hari yang dijuluki sebagai Sayyidul Ayyam atau pemimpin segala hari ini menjadi momentum emas bagi para santri untuk mendulang pahala sekaligus memperkuat fondasi keimanan mereka.
Sejak fajar menyingsing, suasana di lingkungan sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim (YPCM) ini sudah dipenuhi dengan aura religius yang kental. Seluruh santri, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), tampak bersiap mengikuti rangkaian agenda rutin Jumat yang telah menjadi pilar penting dalam pembentukan karakter dan akhlakul karimah mereka.
Rangkaian aktivitas Jumat dimulai dengan pembiasaan zikir pagi berjamaah di Mushola Yayasan. Di bawah bimbingan para ustadz dan ustadzah yang penuh dedikasi, suara lantunan zikir dan Asmaul Husna bergema secara harmonis, menciptakan getaran spiritual yang menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Tidak hanya zikir, pembacaan surat Al-Kahfi secara berjamaah juga menjadi agenda wajib. Pihak sekolah menanamkan pemahaman kepada para santri bahwa membaca Al-Kahfi di hari Jumat adalah benteng dari fitnah zaman. Kegiatan ini merupakan bagian dari visi besar Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual (IQ), tetapi juga memiliki kedalaman kecerdasan spiritual (SQ).
"Hari Jumat di Sekolah Akhlak Cendekia Muslim adalah hari untuk melakukan tashfiyatun niyah atau penyucian niat. Kami ingin para santri memahami bahwa ilmu tanpa iman adalah kehampaan. Melalui zikir dan Al-Kahfi, kami sedang menanamkan cahaya di hati mereka agar siap menghadapi tantangan dunia dengan prinsip Islam yang kokoh," ujar salah seorang pendidik senior di lingkungan YPCM.
Selain aktivitas spiritual di dalam mushola, para santri juga diajarkan untuk mempraktikkan berbagai adab dan sunnah Jumat secara nyata. Pihak sekolah menjadikan hari Jumat sebagai "Laboratorium Adab" yang hidup. Para santri laki-laki, misalnya, dibimbing untuk menjalankan sunnah kebersihan diri, mulai dari memotong kuku, merapikan rambut, hingga menggunakan pakaian terbaik dan wewangian sebelum melaksanakan Shalat Jumat berjamaah.
Para ustadz pendamping kelas dengan telaten memberikan edukasi mengenai filosofi di balik setiap sunnah tersebut. Hal ini bertujuan agar nilai-nilai agama tidak hanya berhenti sebagai teori di dalam buku teks, tetapi menjelma menjadi gaya hidup (lifestyle) yang melekat pada kepribadian setiap santri. Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan dan kerapian di hari Jumat dipandang sebagai cerminan dari kemuliaan akhlak seorang muslim.
Pihak Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim (YPCM) Sijunjung memberikan dukungan penuh terhadap seluruh fasilitas dan agenda keagamaan ini. Bagi yayasan, hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi karakter mingguan secara menyeluruh. YPCM berkomitmen untuk terus menyediakan lingkungan sekolah yang asri, bersih, dan kondusif agar para santri dapat menjalankan ibadah dengan khidmat.
"Di Yayasan Cendekia Muslim, kami memandang setiap hari Jumat sebagai kesempatan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah dan akuntabilitas spiritual. Kami ingin santri-santri kami tumbuh menjadi pribadi yang menghargai waktu-waktu utama dalam Islam. Inilah esensi dari Sekolah Akhlak; membangun peradaban yang dimulai dari atas sajadah," ungkap perwakilan manajemen yayasan saat meninjau aktivitas santri.
Puncak dari kegiatan Jumat religi ini adalah pelaksanaan Shalat Jumat berjamaah yang diikuti dengan taushiyah singkat yang inspiratif. Materi nasihat biasanya berkaitan dengan isu-isu moral kontemporer yang relevan dengan usia santri, memotivasi mereka untuk terus menjadi pionir kebaikan di tengah masyarakat.
Melalui tradisi Jumat religi yang dilakukan secara konsisten, Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung berharap dapat melahirkan lulusan yang memiliki integritas tinggi. Dengan hati yang senantiasa terpaut pada masjid dan lisan yang basah dengan zikir, diharapkan para santri ini akan tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang adil, bijaksana, dan senantiasa membawa keberkahan bagi nusa, bangsa, dan agama.