Menjemput Cahaya Sayyidul Ayyam: Ikhtiar Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung Mencetak Generasi Rabbani
SIJUNJUNG, Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Kabupaten Sijunjung pada Jumat pagi (17/4/2026) perlahan tersingkap oleh pancaran energi spiritual dari kompleks pendidikan Sekolah Akhlak Cendekia Muslim. Di hari yang dijuluki sebagai Sayyidul Ayyam atau pemimpin segala hari ini, suasana sekolah tampak berbeda. Tidak ada keriuhan yang berlebihan; yang terdengar hanyalah lantunan zikir yang mengalun syahdu, menandakan dimulainya rangkaian agenda "Jumat Religi" yang telah menjadi napas utama lembaga tersebut.
Kegiatan rutin setiap hari Jumat ini merupakan pengejawantahan dari visi besar Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim (YPCM). Yayasan meyakini bahwa pendidikan yang paripurna bukan hanya tentang transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan yang lebih utama adalah transfer nilai-nilai karakter (transfer of value). Bagi YPCM, hari Jumat adalah momentum sakral untuk melakukan "penyucian jiwa" sekaligus penguatan fondasi keimanan bagi seluruh warga sekolah.
Tepat pukul 07.15 WIB, seluruh santri mulai dari jenjang Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) berkumpul dengan khidmat. Di bawah bimbingan ustadz dan ustadzah pendamping kelas yang penuh dedikasi, para santri melantunkan zikir pagi dan Asmaul Husna secara berjamaah di Mushola Yayasan serta ruang-ruang kelas yang telah dikondisikan.
Puncak dari rutinitas pagi ini adalah pembacaan Surat Al-Kahfi. Pihak sekolah menanamkan pemahaman mendalam kepada para santri bahwa membaca Al-Kahfi di hari Jumat adalah benteng perlindungan dari fitnah zaman. Secara pedagogis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana melatih literasi Al-Qur'an dan ketajaman fokus santri. Suara polos anak-anak yang bersahut-sahutan melantunkan ayat suci menciptakan atmosfer yang begitu menyejukkan hati, seolah mengundang keberkahan turun menaungi proses belajar mengajar.
"Hari Jumat di Sekolah Akhlak Cendekia Muslim adalah oase spiritual di tengah padatnya kurikulum akademik. Kami ingin santri memahami bahwa kecerdasan akal akan jauh lebih bermakna jika disinari oleh cahaya iman. Zikir dan Al-Kahfi adalah cara kami menyalakan pelita di hati mereka agar siap menghadapi tantangan dunia dengan prinsip Islam yang kokoh," ujar salah seorang pendidik senior di lingkungan YPCM Sijunjung.
Sekolah Akhlak Cendekia Muslim tidak sekadar mengajarkan teori agama di dalam buku, tetapi menjadikannya praktik nyata. Hari Jumat ditransformasikan menjadi "Laboratorium Adab" yang hidup. Para ustadz dan ustadzah pendamping dengan telaten membimbing santri untuk menjalankan sunnah-sunnah Jumat sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Para santri diajarkan pentingnya menjaga kebersihan diri sebagai manifestasi iman, mulai dari memotong kuku, merapikan rambut, hingga anjuran bagi santri laki-laki untuk mengenakan pakaian terbaik dan menggunakan wewangian sebelum melaksanakan Shalat Jumat berjamaah. Aktivitas ini bertujuan untuk menanamkan rasa bangga terhadap identitas muslim yang bersih, rapi, dan berwibawa. YPCM meyakini bahwa adab yang dipraktikkan secara konsisten akan mengkristal menjadi karakter yang melekat kuat pada kepribadian santri hingga mereka dewasa kelak.
Pihak Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim (YPCM) Sijunjung memberikan dukungan infrastruktur dan manajerial secara total terhadap seluruh agenda Jumat Religi ini. Dukungan yayasan terlihat nyata dari penyediaan fasilitas ibadah yang asri dan nyaman, serta manajemen waktu kurikulum yang tetap memprioritaskan penguatan spiritual tanpa mengesampingkan target pencapaian akademik nasional.
Bagi yayasan, hari Jumat juga menjadi momentum untuk memperkuat tali ukhuwah islamiyah (persaudaraan Islam) antar-seluruh warga sekolah. Setelah pelaksanaan Shalat Jumat, biasanya diadakan sesi nasihat singkat (taushiyah) atau diskusi karakter yang inspiratif. Yayasan berkomitmen untuk terus menjadikan Sekolah Akhlak Cendekia Muslim sebagai pusat peradaban pendidikan di Sijunjung yang mampu menyelaraskan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi secara harmonis.
"Di YPCM Sijunjung, kami mengusung konsep pendidikan holistik yang menyentuh 'otot, otak, dan hati'. Hari Jumat adalah waktu bagi kami untuk melakukan 'cas batin' bagi para santri dan guru. Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya jago sains dan teknologi, tetapi juga fasih membaca Al-Qur'an, taat beribadah, dan memiliki empati sosial yang tinggi. Itulah definisi 'Cendekia Muslim' yang sesungguhnya," tegas perwakilan manajemen yayasan saat memantau aktivitas lapangan.
Rangkaian kegiatan Jumat ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan secara khusus untuk kebaikan orang tua, keberkahan para guru, dan kemajuan bangsa Indonesia. Semangat "Fitrah" yang dibangun di hari Jumat ini diharapkan menjadi energi positif yang dibawa santri kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Melalui tradisi Jumat religi yang terstruktur, bermakna, dan penuh kasih sayang ini, Sekolah Akhlak Cendekia Muslim Sijunjung terus membuktikan perannya sebagai lembaga pendidikan pionir yang dipercaya masyarakat. Bersama Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim, hari Jumat di bumi Sijunjung bukan sekadar rutinitas penanggalan, melainkan perjalanan spiritual mingguan menuju pembentukan karakter generasi emas yang berakhlakul karimah.