Melampaui Batas Dinding Kelas: Santri SMP Kelas Ibnu Sina Akhlak Cendekia Muslim Eksplorasi Ilmu di Fasilitas Saung Edukasi

Melampaui Batas Dinding Kelas: Santri SMP Kelas Ibnu Sina Akhlak Cendekia Muslim Eksplorasi Ilmu di Fasilitas Saung Edukasi

Sijunjung, Selasa pagi, 4 Agustus 2026, suasana di kompleks pendidikan SMP Akhlak Cendekia Muslim tampak sangat dinamis. Ada pemandangan yang tidak biasa di area taman sekolah yang asri. Jika biasanya proses belajar-mengajar terkonsentrasi di dalam ruang kelas dengan jajaran kursi dan meja yang formal, pagi ini santri dari Kelas Ibnu Sina tampak memindahkan "markas" belajar mereka ke fasilitas saung-saung kayu yang terletak di ruang terbuka hijau sekolah.

Langkah ini merupakan implementasi dari program Outdoor Learning Environment yang dicanangkan oleh Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim untuk tahun ajaran 2026/2027. Penggunaan saung sebagai sarana belajar alternatif ini bertujuan untuk memberikan penyegaran psikologis bagi para santri sekaligus mendekatkan mereka pada ekosistem alam sebagai sumber inspirasi pengetahuan.

Kelas yang mengambil nama besar sang ilmuwan legendaris muslim, Ibnu Sina (Avicenna), ini memang dirancang untuk memiliki karakteristik yang eksploratif. Ustadz pembimbing kelas menjelaskan bahwa pemilihan lokasi belajar di saung pada hari Selasa ini bukan sekadar untuk mencari suasana santai, melainkan memiliki landasan pedagogis yang kuat.

"Ibnu Sina adalah tokoh yang mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan tersebar luas di alam semesta, bukan hanya di dalam tumpukan buku. Dengan membawa santri belajar di saung, kami ingin merangsang panca indra mereka. Udara segar, suara gemericik air dari kolam di dekat saung, serta pemandangan hijau adalah stimulus alami yang mampu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat (retensi) santri terhadap materi pelajaran," jelas Ustadz pengampu materi di lokasi.

Di dalam saung yang terbuat dari kayu jati berkualitas dengan atap yang sejuk, para santri tampak duduk melingkar (lesehan). Format duduk seperti ini menghilangkan sekat formalitas antara guru dan murid, sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih demokratis dan interaktif. Materi yang dibahas pagi itu mengenai sains dan peradaban Islam tampak lebih hidup ketika dibicarakan di ruang terbuka.

Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim sebagai lembaga pengelola, menyadari betul bahwa kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik sekolah. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas saung belajar ini menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan infrastruktur sekolah.

Ketua Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim menyatakan bahwa investasi pada fasilitas luar ruang seperti saung adalah investasi pada kesehatan mental santri.

 

"Kami tidak ingin santri kami merasa 'terpenjara' oleh tembok kelas. Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berkomitmen menciptakan sekolah yang bernapas, sekolah yang memberikan ruang bagi santri untuk menghirup oksigen kreativitas. Saung-saung ini adalah laboratorium kehidupan di mana santri SMP kami bisa berdiskusi, merenung, dan menyusun masa depan mereka dengan pikiran yang jernih," tegas Ketua Yayasan.

 

Lebih lanjut, pihak yayasan juga telah melengkapi area saung tersebut dengan akses internet nirkabel yang terkontrol, sehingga meskipun belajar di alam, para santri tetap bisa mengakses referensi digital internasional guna mendukung riset-riset kecil mereka di kelas Ibnu Sina.

Kegiatan belajar santri SMP di hari Selasa ini juga menunjukkan betapa teraturnya manajemen operasional di bawah naungan Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Yayasan ini mengelola berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga SMP, dengan pendekatan yang sangat personal dan spesifik.

Dalam sistem manajemen yayasan, terdapat pembagian beban aktivitas yang sangat memperhatikan aspek usia perkembangan anak. Salah satu kebijakan yang paling menonjol adalah pengaturan jadwal libur. Sementara santri SMP memiliki jadwal yang lebih padat untuk mengejar target akademik dan pengembangan diri, Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim memberikan kebijakan khusus bagi santri Kelompok Bermain (KB) Akhlak Cendekia Muslim.

Santri jenjang KB diberikan jadwal libur pada hari Sabtu. Kebijakan ini merupakan bentuk kasih sayang yayasan agar anak usia dini memiliki waktu istirahat yang cukup dan kesempatan untuk mempererat ikatan emosional (bonding) dengan orang tua di rumah. Dengan adanya "Sabtu Libur" bagi santri KB, diharapkan mereka tidak mengalami kelelahan kronis. Hal ini terbukti efektif, di mana pada hari Selasa ini, saat kakak-kakak SMP Kelas Ibnu Sina sedang serius belajar di saung, santri-santri KB juga terlihat sangat ceria mengikuti aktivitas motorik mereka di area bermain, karena mereka memulai pekan dengan energi yang sudah terisi penuh di akhir pekan sebelumnya.

Pemanfaatan saung untuk belajar ini mendapatkan respons yang sangat positif dari para santri SMP Kelas Ibnu Sina. Berdasarkan observasi pendidik, tingkat partisipasi santri dalam diskusi meningkat hingga 40% saat belajar di luar ruangan dibandingkan di dalam kelas.

"Belajar di saung membuat saya tidak cepat mengantuk. Kalau di kelas kadang terasa pengap kalau sudah siang, tapi di sini udaranya enak. Saya jadi lebih berani bertanya dan berpendapat karena suasananya seperti sedang mengobrol santai di rumah," ujar salah satu santri kelas VII Ibnu Sina dengan wajah sumringah.

Selain dampak psikologis, belajar di saung juga melatih kemandirian dan tanggung jawab santri. Mereka diajarkan untuk menjaga kebersihan saung, merapikan kembali buku-buku, dan memastikan area hijau tetap terjaga setelah digunakan. Ini adalah bagian dari pendidikan akhlak terhadap lingkungan yang menjadi identitas utama sekolah ini.

Kegiatan pada Selasa, 4 Agustus 2026 ini menjadi potret nyata dari visi besar Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim. Bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer data dari guru ke murid, melainkan soal menciptakan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning).

Dengan terus memanfaatkan fasilitas saung dan ruang terbuka lainnya, SMP Akhlak Cendekia Muslim Kelas Ibnu Sina sedang bertransformasi menjadi pusat keunggulan pendidikan yang humanis, religius, dan berwawasan lingkungan. Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim berharap langkah-langkah kecil seperti belajar di saung ini akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang bijaksana, yang hatinya terpaut pada masjid, pikirannya setajam Ibnu Sina, dan jiwanya mencintai alam ciptaan Allah SWT.